Rabu, 07 Juli 2010

TES TERSTANDAR DAN TES NON STANDAR

A. TES STANDAR

1. Pengertian Tes Standar

Pengertian tes standar secara sempit adalah tes yang disusun oleh satu tim ahli, atau disusun oleh lembaga yang khusus menyelenggarakan secara professional. Tes tersebut diketahui memenuhi syarat sebagai tes yang baik; yakni diketahui validitas dan reliabilitasnya baik validitas rasional maupun validitas empirik, reliabilitas dalam arti teruji tingkat stabilitas, maupun homoginitasnya.

Tes ini dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama, dapat diterapkan pada beberapa obyek mencakup wilayah yang luas.

Untuk mengukur validitas dan reliabilitasnya telah diuji-cobakan beberapa kali sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Yang dituntut dalam tes standar bukan standar prestasi peserta didik dari penguasaan materi yang diajarkan pada suatu tingkat, lembaga pendidikan tertentu, melainkan adanya kesamaan performance pada kelompok peserta didik atau lembaga pendidikan disebabkan adanya kesamaan tolok ukur. Oleh karena itu dalam tes standar, masalah keseragaman dan konsistensi skoring penting untuk diperhatikan; sehingga tes tersebut dapat dipakai untuk membandingkan peserta didik dari berbagai sekolah.

Standar untuk siswa dapat dimaksudkan seagai suatu tingkat kemampuan yang harus dimiliki bagi suatu program tertentu. Mungkin standar bagi suatu kursus A berbeda dengan B. jadi standar ini yang dibuat “keras” maupun “lunak” tergantung dari yang menggunakan keijaksanaan.

Suatu tes standar dengan demikian berbeda dengan tes prestasi biasa.

Prosedur yang digunakan untuk menyusun tes standar untuk tes prestasi secara langsung yang ditumbuhkan dari tes yang digunakan dikelas. Sedangkan spesifikasi yang digunakan untuk menentukan isi dalam tes bakat biasanya didasarkan atas analisis job(jabatan) atau analisis tugas yang merupakan tuntutan calon pekerjaannya. Disamping itu juga mempertimbangkan sifat-sifat yang ada pada manusia. Analisis jabatan analisis tugas yang dilakukan biasanya tidak tidak didasarkan atas satu kurikulum, tetapi diambil dari masyarakat.

Istilah “standar” dalam tes dimaksudkan bahwa semua siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama dari sejumlah besar pertanyaan dikerjakan dengan menggunakan petunjuk yang sama dan dalam batasan waktu yang sama pula. Dengan demikian maka seolah-olah ada suatu standar atau ukuran sehingga diperoleh suatu standar penampilan (performance) dan penampilan kelompok lain dapat dibandingan dengan penampilan kelompok standar tersebut.

Istilah “standar” tidak mengandung arti bahwa tes tersebut mengukur apa yang harus dan dapat diajarkan pada suatu tingkat tertentu atau tes itu menyiapkan suatu standar prestasi dimana siswa harus dan dapat mencapai suatu tingkat tertentu. sekali lagi tes standar dipolakan untuk penampilan prestasi sekarang (yang ada) yang dilaksanakan secara seragam, diusahakan dalam kondisi yang seragam, baik itu diberikan kepada siswa dalam pelaksanaan peseorangan maupun siswa sebagai anggota dari suatu kelompok.

Apabila pendidik bermaksud menstandarisasikan tes buatannya sendiri, memerlukan perencanaan yang baik, dilakukan uji coba di lapangan beberapa kali, dan ada beberapa yang perlu distandarisasikan, yaitu:

1. Materi yang akan diujikan,

2. Sistem evaluasi yang digunakan,

3. Waktu penyelesaian soalan tes,

4. Tingkat kesukaran tes, dan

5. Cara pengolahan hasil, termasuk skoring yang digunakan.

Sesungguhnya tes standar tidak hanya mecakup achievement test saja tetapi mencangkup personality tes, seperti tes sikap, tes minat, tes bakat, dan tes integelensi.

2. Kegunaan Tes Standar

Secara singkat dapat dikemukakan bahwa kegunaan tes standar adalah:

a. Jika ingin membuat perbandingan,

b. Jika banyak orang yang akan memasuki suatu sekolah tetapi tidak tersedia data tentang calon ini.

Secara garis besar kegunaan tes standar adalah:

a. Membandingkan prestasi belajar dengan pembawaan individual atau kelompok.

b. Membandingkan tingkat prestasi siswa dalam keterampilan di berbagai bidang studi untuk individual atau kelompok.

c. Membandingkan prestasi siswa berbagai sekolah atau kelas, dan

d. Mempelajari perkembangan siswa dalam suatu periode atau waktu tertentu.

3. Kelengkapan Tes Standar

Sebuah tes yang sudah distandarisasikan dan sudah dapat disebut sebagai tes standar, biasanya dilengkapi dengan sebuah manual. Manual ini memuat keterangan-keterangan atau petunju-petunjuk yang perlu terutama yang menjelaskan tentang pelaksanaan, mengskor, dan mengadakan interpretasi.

Secara garis besar manual tes standar ini memuat:

a. Ciri-ciri mengenai tes, misalnya menyebutkan tingkat validitas. Tingkat reliabilitas dan sebagainya.

b. Tujuan serta keuntungan-keuntungan dari tes

Misalnya yang disebutkan untuk siapa tes tersebut diberikan dan untuk tujuan apa.

c. Proses standarisasi tes

Misalnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan sampel.

- Besarnya sampel,

- Teknik sampling,

- Kelompok mana yang diambil sebagai sampel(sifat sampel).

Juga mengenai taraf kepercayaan yang diambil dan bagaimana kaitannya dengan hasil tes.

d. Petunjuk-petunjuk tentang cara melaksanakan tes

Misalnya: dilaksanakan dengan lisan atau tertulis, watu yang digunakan untuk mengerjakan setiap bagian, boleh tidaknya tercoba keluar jika sudah selesai mengerjaan soal itu dan sebagainya.

e. Petunjuk-petunjuk bagaimana cara menskor

Misalnya: untuk beberapa skor tiap-tiap soal/unit, menggunakan sistem hukuman atau tidak, bagaimana cara menghitung nilai akhir dan sebagainya.

f. Petunjuk-petunjuk untuk menginterpretasikan hasil

Misalnya:

- Betul nomor sekian sampai sekian cocok untuk jabatan kepala seksi,

- Betul nomor sekian saja, cocok untuk jabatan guru dan sebagainya.

g. Saran-saran lain

Misalnya: siapa pun harus menjadi pengawas, bagaimana seandainya tidak ada calon yang mencapai skor tertentu dan sebagainya.

B. TES NONSTANDAR

1. Pengertian tes tidak standar

Tes nonstandard adalah kebalikan tes standar, yaitu tes yang disusun oleh seorang pendidik yang belum memiliki keahlian professional dalam penyusunan tes, atau mereka yang memiliki keahlian tetapi tidak sempat menyusun tes secara baik, mengujicobakan, melakukan analisis sehingga validitas dan reliabilitas belum dapat dipertanggungjawabkan. Tes non standar sering digunakan untuk menyebut tes buatan guru, artinya disusun oleh seorang guru tanpa bantuan tim ahli. Sebenatnya penggunaan istilah kedua ini tidak tepat, sebab mendiskripsikan guru seagai orang yang tidak mampu menyusun tes yang baik, penulis lebih cenderung menggunakan pengertian yang mendasarkan pada kriteria kualitatif dari pada dilihat dari siapa yang menyusun.

Tes buatan guru memang memiliki beberapa kekhususan, bisa jadi syarat kualitatif belum terpenuhi, tetapi ia memiliki kelebihan lebih cocok untuk mengukur hal-hal khusus yang tidak dapat distandarisasikan; seperi formatif, tes diagnostik, hasilnya lebih realistik. Sebab tes ini dirancang sesuai dengan keadan peserrta didik, PBM suatu tingkat dan lembaga pendidikan tertentu.

2. Kegunaan tes tidak standar

a. Untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu.

b. Untuk menentukan apakah sesuatu tujuan telah tercapai.

c. Untuk memperoleh suatu nilai.

Selanjutnya baik tes standard dan tes buatan guru dianjurkan dipakai jika hasilnya akan digunakan untuk:

a. Mengadaan diagnosis terhadap ketidakmampuan siswa.

b. Menentukan tempat siswa dalam suatu kelas atau kelompok.

c. Memberikan bimbingan kepada siswa dalam pendidikan dan pemilihan jurusan.

d. Memilih siswa untuk program-program khusus.

C. PERBANDINGAN ANTARA TES STANDAR DENGAN TES NONSTANDAR

Tes standar disusun dalam tipe-tipe soal yang sama yang meliputi bahan atau pengetahuan yang sama banyak dengan bahan atau pengetahuan yang dicakup oleh tes buatan guru. Jadi, apakah perbedaan antara tes standar dengan tes tidak standar (tes buatan guru) atau apakah keburukan dan keuntungan tes standar.

Pertama, marilah kita tinjau perbedaan antara tes standar dengan tes buatan guru.

Tes Standar

Tes Buatan Guru

a. Didasarkan atas bahan dan tujuan umum dari sekolah-sekolah di seluruh Negara.

b. Mencakup aspek yang luas dan pengetahuan dan keterampilan yang hanya sedikit butir tes untuk setiap keterampilan atau topik.

c. Disusun dengan kelengkapan staf professor, pembahas, dan editor butir tes.

d. Menggunakan butir tes yang sudah diujicobakan (try out), dianalisa dan direvisi sebelum diujikan.

e. Mempunyai reliabilitas yang tinggi.

f. Dimungkinkan menggunakan norma untuk seluruh Negara.

a. Didasarkan atas bahan dan tujuan khusus yang dirumuskan oleh guru untuk kelasnya sendiri.

b. Dapat terjadi hanya mencakup pengetahuan dan keterampilan yang sempit.

c. Biasanya disusun sendiri oleh guru dengan sedikit atau tanpa bantuan orang lain/tenaga ahli.

d. Jarang menggunakan butir tes yang sudah diujicobakan, dianalisa dan direvisi.

e. Mempunyai reliabilitas sedang atau rendah.

f. Norma kelompok terbatas kelas tertentu.

Sumardi Suryabrata, menegaskan bahwa dalam masalah norma, sebenarnya ada tiga jenis, yaitu:

1. Norma nasional,

2. Norma lokal, dan

3. Norma sekolah (Sumadi Suryarata, 1987: 128)

Perbedaan antar norma nasional dan norma lokal mencakup daerah liputannya, norma nasional memiliki karateristik yang unik, tidak sederhana, dan tidak mudah menyusunnya karena keadaan oyek yang sangat heterogen; sedangkan norma lokal sampel relatif homogen. Norma lokal lebih cermat dalam menginterprestasikan prestasi dalam jangkauan wilayahnya, hal ini penting bilamana akan dipakai untuk melakukan penilaian pendidikan. Norma nasional sekalipun sulit, namun bila sudah tersusun sangat berguna untuk acuan menginterpretasikan taraf kompetensi individual, sekolah, dan wilayahnya.

Sampel norma sekolah jauh lebih homogen dibandingkan kedua norma diatas. Norma sekolah dapat dipakai sebagai acuan interpretasi hasil tes peserta didik dari sekolah bersangkutan. Oleh karena itu masing-masing sekolah memiliki norma sendiri sesuai dengan kualitas sekolah bersangkutan.

Pada saat ini hasil belajar peserta didik kita jumpai penggunaan dua norma, yaitu norma sekolah dan norma nasional Norma sekolah ditemuan dalam STTB dan nilai rata-rata rapor, sedangkan norma nasional ditemukan pada NEM (Nilai Ebtanas Murni). Secara ideal lebih baik bilamana setiap peserta didik juga memiliki norma lokal.

Kedua, untuk menyusun tes standar, diutuhkan waktu yang lama. Seperti disebutkan ahwa untuk memperoleh sebuah tes standar melalui prosedur:

- Penyusunan;

- Uji coba;

- Analisa;

- Revisi;

- Edit.

Kelima kegiatan ini membutuhkan waktu lama.

DAFTAR PUSTAKA

Arikonto, Suharsimi. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta :Bumi Angkasami

Purwanto, M. Ngalim. 2001. Prinsip-Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Thoha, M. Chabib. 2001. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Grafindo Persada.

VALIDITAS TES

A. VALIDITAS TES

1. Pengertian Validitas

Validitas merupakan suatu kata yang berasal dari kata “valid” yaitu secara etimologi diartikan sebagai tepat, benar, sahih, dan abash. Dengan kata lain, sebuah tes telah memilii validitas, apabila tes tersebut dengan secara tepat, benar, sahih atau absah telah dapat mengungkap atau mengukur apa yang seharusnya diungkap atau diukur lewat tes tersebut. Misalnya barometer adalah suatu alat yang valid untuk mengukur tekanan udara. Demikian dangan alat-alat evaluasi. Suatu tes hasil belajar dapat dikatakan tes yamg valid apabila tes tersebut betul-betul dapat mengukur hasil belajar. Jadi bukan sekedar mengukur daya ingatan atau kemampuan bahasa saja misalnya Contoh lain, untuk mengukur partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, bukan diukur melalui nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi dilihat melalui: kehadiran, terpusatnya perhatian pada pelajaran, ketepatan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam arti relevan pada permasalahannya.

2. Jenis-jenis Validitas

Ada 4 (empat) macam validitas yang berasal dari dasar pembagian jenis di atas yaitu :

a. Validitas Logis

1. Validitas Isi (content validity)

Validitas isi dari tes hasil belajar adalah validitas yang diperoleh setelah dilakukan penganalisisan, penelusuran atau- pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut.

Validitas isi adalah validitas yang ditilik dari segi tes itu sendiri sebagai alat pengukur hasil belajar yaitu : sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah dapat mewakili secara representatif terhadap eseluruhan materi atau bahan pelajaran yang seharusnya diteskan.

2. Validitas Konstruksi (construct validity)

Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apa bila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam tujuan instruksional khusus. Dengan kata lain jika butir-butir soal mengukur aspek berpikir tersebut sudah sesuai dangan aspek berpikir yang menjadi tujuan Instruksional. Contoh, jika rumusan Tujuan- Instruksionl khusus (TIK) : “Siswa dapat membandingkan antara efek biologis dan efek psikologis”, maka butis soal pada tes merupakan perintah agar siswa membedakan antara dua efek tersebut.

Konst ruksi” dalam pengertian ini bukanlah “susunan”seperti yang di jumpai dalm teknik, tetapi merupakn rekaan psikologis yaitu suatu rekaan yang dibuat oleh para ilmu jiwa dengan suatu cara tertentu “memerinci” isi jiwa atas beberapa aspek seperti : ingtan (pengetahuan ), pemahaman, aplikasi, dan seterusnya.

b. Validitas Empiris

1. Valditas” ada sekarang” (concurrent validity)

Validitas ini lebih umum dikenal dengan validitas empiris. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang udah ada. misalnya seorang guru inginmengetahui apkah tes sumatif yang di susun sudah valid atau belum. Untuk itu diperlukan sebuah kriterium masa lalu yang sekarang datanya dia memiliki misalnya nilai ulangan harian atau nilai ulangan sumatif yang lalu.

2. Validitas prediksi (predictive validity)

Memprediksi artinya meramal, dan meramal selalu mengenai hal yang akan datang jadi sekarang belum terjadi. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan dating

B. CARA MENGETAHUI VALIDITAS ALAT UKUR

Tenik yang digunakan untuk mengetahui kesesjaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson.

Rumus korelasi product moment ada dua macam, yaitu:

1. Korelasi produc moment dengan simpangan

Rumus korelasi produc moment dengan simpangan

dalam mana:

rxy = koevisien korelasi antara variable X dan Y, dua variable yang dikorelasikan (x=X-X dan y=Y-Y)

∑xy = jumlah perkalian x dan y

x2 = kuadrat dari x

y2 = kuadrat dari y

2. Korelasi produc moment dengan angka kasar

dalam mana:

rXY = koefisien korelasi antara variable X dan variable Y, dua variabel yang dikorelasikan.

C. PENGUJIAN VALIDITAS TES HASIL BELAJAR

Penganalisisisan terhadap tes hasil belajar sebagai suatu totalitas dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, penganalisisan yang dilakukan dengan jalan berfikir secara rasional atau penganalisisan dengan logika. Kedua, penganalisisan yang dilakukan dengan mendasarkan diri pada kenyataan empiris, dimana penganalisisan dilaksanakan dengan menggunakan empirical analisis.

1. Pengujian validitas tes secara rasional

Validiras rasional (logika) adalah validitas yang yang diperoleh dari hasil pemikiran, validitas yang diperoleh dengan berfikir secara logis. Dengan demikian maka suatu tes hasl belajar dapat dikatakan telah memilii valaidiras rasional, apabila telah dilakukan penganalisisan secara rasional ternyata bahwa tes hasil belajar itu memang (secara rasional) dengan tepat telah dapat mengukur apa yang harus diukur.

Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas rasional atau belum, dapat dilakukan penelusuran dari dua segi, yaitu dari segi konstruksi dan dari segi isi.

2. Pengujian validitas tes secara empirik

Dimaksud dengan validitas empirik adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang bersifat empirik. Dengan kata lain, validitas empirik adalah validitas yang bersumber pada atau diperoleh atas dasar pengamatan dilapangan

Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memilikia validitas empirik ataukah belum, dapat dilakukan penelusuaran dari dua segi, yaitu dari segi daya ketepatan meramalnya dan daya ketepatan bandingannya.

a. Validitas ramalan

Dalam istilah ramalan terkandung pengertian mengenai sesuatu yang berhak terjadi dimasa mendatang”. Apabila istilah ramalan dikaitkan dengan validitas tes, maka yang dimaksud dengan validiras ramalan dari sudut tes adalah suatu kondisi yang menunjukan seberapa jauhkah seuah tes telah dapat dengan secara tepat menunjukan kemampuannya untuk meramalkan apa yang berhak terjadi pada masa mendatang.

Tes seleksi penerimaan calon mahasiswa baru pada seuah perguruan tinggi misalnya, adalah suatu tes yang diharapkan mampu meramalkan keberhasilan studi para calon mahasiswa- dalam mengikuti program pendidikan di perguruan tinggi tersebut pada masa yang akan datang.

b. Validitas bandingan

Tes sebagai alat ukur dapat dikatakan telah memiliki validitas andingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama dengan secara tepat telah mampu menunjukan adanya huungan searah, anta rtes pertama dengan tes berikutnya. Validitas bandingan juga sering dikenal dengan istilah validitas sama saat, validitas pengalaman atau validitas pada sekarang. Dikatakan sama saat, sebab validitas tes itu ditentukan attas dasar data hasil tes yang pelaksanaanya dilakukam pada waktu yang sama. Dikatakan validitas pengalaman sebab validitas tes tersebut ditentukan atas dasar pengalaman yang telah diperoleh. Adapun dikatakan sebagai validitas ada sekarang, sebab setiapa kali kita menyebut istilah pengalaman, maka istilah itu selalau kita kaitkan dengan hal-hal yang telah ada atau hal-hal yang telah terjadi pada waktu yang lalu, sehingga data mengenai pengalaman masa lalu itu pada saat ini sudah ada ditangan.

D. TEKNIK PENGUJIAN VALIDITAS ITEM TES HASIL BELAJAR

1. Pengertian Validitas Item

Dimaksud dengan validitas item dari suatu tes adalah ketepatan mengukur yang dimiiliki oleh sebutir item, dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir item tersebut.

Eratnya hubungan antara butir item dengan tes hasil belajar sebagai suatu totalitas itu kiranya dapat dipahami dari kenyataan, bahwa semakin anyak butir item yang dapat dijawab dengan betul oleh testee, maka skor-skor total-total hasil tes tersebut akan semakin tinggi.

Pernyataan tersebut merupakan petunjuk bahwa semaain besar “dukungan” yang diberikan oleh butir-butir item terhadap tes hasil- elajar, maka tes tersebut akan semakin dapat menunjukan “kemantapannya”.

2. Teknik Pengujian Validitas Item Tes Hasil Belajar

Dari uraian yang telah dikemukakan diatas, kiranya menjadi cukup jelas bahwa sebutir item dapat dikatakan telah memiliki validitas yang tinggi atau dapat dinyatakan valid, jika skor-skor pada butir item yang bersangkutan memiliki kesesuaian atau kesesajaran arah dengan skor totalnya ; atau dengan bahasa statistic: ada korelasi positif yang signifikan antara skor item dengan skor totalnya.

Daftar Pustaka

Sudjana, Anas. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Cet ke-1. Jakarta : PT Grafindo Persada.

Arikonto, Suharsimi. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta :Bumi Angkasa

Thoha, M. Chabib. 1996. Teknik Evaluasi Pendidikan. Cet. ke-3. Jakarta : PT Grafindo Persada.

Nurkancana, Wayan dan Sumartana. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional